Selamat datang di Situbondo, Jawa Timur. Saya akan mengajak anda ke sebuah tempat yang banyak pohon dan kaya akan oksigen, Taman Nasional Baluran. Sekarang kan lagi jaman bikin nama sobat gitu. Contohnya si lucu Qahtan gen Halilintar yang ke-11, nama temannya Dynos. Mau ikutan ah, kan nama saya Zahrah, artinya Bunga. Jadi nama teman saya adalah Benang Sari (untuk cowok) dan Putik (untuk cewek), setuju tidak? Kalau tidak yasudah tak apa :) wkwkwkw. Libur semester kali ini saya putuskan untuk mengiyakan ajakan mba Jule main ke Banyuwangi. Dan hingga H-1 keberangkatan, saya pribadi masih belum bisa menentukan itinerary. Saya serahkan semuanya ke mba Jule, hehehe. Dari Malang berangkat jam 6 naik sepeda motor menuju Banyuwangi. Karena berniat mampir ke Baluran, akhirnya kami ambil jalur atas atau utara melewati kota Lawang, Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, dan Situbondo. Sekiranya sampai di perbatasan Besuki dan Situbondo, jam 10.30 kami beristirahat sejenak di salah satu masjid pinggir jalan. Niatnya mau tidur sebentar, eh tapi baru ingat kala itu hari Jum'at. Tentunya masjid disiapkan untuk shalat Jum'at para lelaki, akhirnya saya hanya bisa rebahan (dan terlelap sekejap) di kursi tamannya. Lanjut perjalanan, kami lurus terus mengikuti jalan utama bermarkah ke timur menuju Baluran. Jalanannya mulus meski tetap saja ada beberapa lubang yang cukup dalam, ditemani truk-truk besar yang menggerung berat. Sekiranya di daerah Lewung kami melintasi jalanan yang kanan-kirinya adalah pohon-pohon besar sepi penduduk. Tak banyak kendaraan yang melintas. Pada satu titik kami menemui beberapa truk yang sepertinya mogok sehingga mengganggu arus lalu lintas meski tidak terlalu parah. Sebelumnya kami memang sudah diperingati oleh teman, harus hati-hati di daerah ini karena sebenarnya hampir tidak ada pemukiman. Sehingga susah kalau ada apa-apa. Sejam kemudian kami sampailah pada daerah Taman Nasional Baluran. Dengan IDR 20K, saya, mba Jule, dan satu sepeda motor diijinkan untuk masuk. Waktu saya melirik daftar harga pengunjung, cuma bisa meneguk ludah. Wisatawan mancanegara dikenakan biaya sebesar IDR 225K pada hari libur, sedangkan wisatawan lokal IDR 17.5K, jauh sekali ya perbedaannya. Tapi setelah dipikir-pikir, misal dipukul rata dengan dollar, ya hitungannya sepadan. Gerbang masuk menuju Taman Nasional Baluran ada dua, yakni berada di 7 55'17.76"S dan 114 23'15.27"E. Taman Nasional yang meiliki luas 25.000 Ha ini sangat menawan di mata saya. Dari gerbang masuk, kami harus melewati jalan makadam selama hampir satu jam! Awalnya beraspal, kemudian berbuah menjadi tanah dengan kerikil di sana-sini, kemudian berganti menjadi jalan berbatu. Mba Jule bercerita, bahwa tahun 2015 jalanannya tidak separah itu melainkan mulus. Kasihan si motor...... Saya sangat menikmati perjalanan di hari aktif kerja/sekolah, sepi! Beberapa kali motor melewati sekumpulan kupu-kupu kecil berwarna kuning dan putih sehingga mereka menghambur seperti guguran daun di musim semi . Akhirnya setelah melonjak-lonjak di atas sepeda motor, kami sampai di zona vegetasi sabana yang dipenuhi oleh semak perdu diselingi pohon-pohon besar. Nama Taman Nasional Baluran diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu gunung Baluran. Saya sangat bersyukur kepada Allah dengan cuaca pada hari itu. Teriknya membuat biru langit kontras dengan hijaunya rerumputan. Saya berharap pulang nanti minus mata bisa berkurang, amin. For your information, Taman Nasional Baluran memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan. Dan diantaranya merupakan tumbuhan asli yang khas dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering. Tumbuhan khas tersebut antara lain: Widoro Bukol (Ziziphus rotundifolia) Mimba (Azadirachta indica) Pilang (Accacia leucophloea)
Taman Nasional Baluran
Situbondo
Google Maps
23-06-2017