Koreksi Prediksi

Tunjungan Plaza

← Kembali ke Daftar
Tunjungan Plaza Surabaya Google Maps 23-06-2024

Jurnal Andi - 07 September 2023 "Terbesar di Asia, Favorit Surabaya tapi Bukan Jawara Saya" Katanya, Tunjungan Plaza (TP) adalah mall terbesar di Asia Tenggara. Nyatanya, mall ini adalah favorit seluruh masyarakat Surabaya dari berbagai kelas sosioekonomi. Satu-satunya mall yang dapat menjangkau berbagai kalangan. Namun faktanya, semakin jawara mall ini, semakin nihil lah koneksi emosional saya. TP tentu tidak sebesar ini semasa aku kecil tapi tetap yang terbesar di Surabaya. Sekarang semakin masif hingga menjadi 6 bagian, TP1-TP6. Anehnya, aku semakin terdiskoneksi dengan TP. Aku jalan-jalan seputar TP, tidak ada perasaan gembira sama sekali. Tidak seperti dulu. Kemungkinan besar faktornya adalah aku tidak melihat TP sebagai destinasi "jalan-jalan" yang menarik lagi. Bagiku, tidak ada sesuatu yang spesial di TP. Bagaimana tidak, kamu tinggal sebutkan sebuah brand terkenal, di TP itu ada! -Apa spesialnya TP kalau punya segalanya? -Apa spesialnya dengan mall yang super maha besar dan penuh dengan hingar-bingar? -Apa spesialnya TP1-TP6 yang memiliki warna lantai/nuansa yang sama? Aku bahkan tidak bisa membedakan TP1-TP6, itu pun karena aku bukan "maniak mall". Terdiskoneksinya diriku mungkin juga karena aku menganggap TP semakin materialistis dan semakin tidak ramah kelas menengah ke bawah. Bagaimana tidak? Harga makanan berat di TP minimal di angka 30rb-an, itu pun jarang ada yang enak di harga segitu. Minimal 50 ribu untuk makan enak. Tidak punya uang tapi ingin jalan-jalan saja? Oh semakin tersiksa lah manusia-manusia merana. Mau duduk pun susah setengah mati, tidak ada tempat duduk. Duduk di pinggiran, juga akan ditegur satpam. Tiap pulang sesampai rumah, tumit sakit sekali. Apalagi parkiran motor outdoor yang panas dan jauh dari pintu masuk. Ya Tuhan, apa salah hamba. Mau cari baju? Ke matahari, harga minimum 150rb untuk kualitas kaos yang menyedihkan dan tak ada menarik-menariknya. Kemeja minimal 250rb pun... sudahlah tidak perlu dijelaskan. Uniqloo? lupakan saja saudara sekelasku. Di luar itu semua, berbagai area elit di TP3-4-5-6 yang semakin terang warna lampunya, semakin cerah warna lantainya, dan semakin menggairahkan aroma makanannya tapi semakin memuakkan karena semakin tidak terjangkau. "Mek oleh kesel tok mlaku nak TP. Mending Shopee ae" - Bisikan/teriakan manusia miskin. Satu-satunya hal yang membuatku masih mengunjungi TP, hanya sebatas nonton di IMAX aja. ... Huft. Pada proses review ini, aku menemukan perasaan-perasaan "repressed" nan neurotik yang muncul secara spontan saja. Aku pun terkaget menemukan alasan di balik diskoneksiku terhadap TP. Anyway, anyhow kesimpulannya... Secara objektif: TP adalah mall terbaik. Tapi secara subjektif: membuatku gila dengan terangnya cahaya, mononya warna, tingginya harga, dan matinya rasa-rasa. Mungkin sebenarnya masalahnya bukan konsep mall Tunjungan Plaza (yang super bland - materialistic). Masalah sebenarnya adalah diriku yang tumbuh dewasa. Memahami kalau di TP itu gak ada yang penting-penting amat. Sebatas konsumerisme saja. Apa boleh buat, memang TP bukan jawara saya.

Koreksi Per Aspek

Aspek Model: Terdeteksi Model: Sentimen Model: Confidence Terdeteksi Sebenarnya Sentimen Sebenarnya
Akomodasi Tidak
Aksesibilitas & Infrastruktur Tidak
Aktivitas Ya Positif 0.63
Daya Tarik Wisata Ya Positif 0.53
Fasilitas Ya Negatif 0.23
Harga Tidak
Kebersihan Tidak
Kenyamanan & Keamanan Ya Negatif 0.12
Pelayanan Tidak

Simpan Koreksi

Catatan dan nama validator ini berlaku untuk semua aspek di atas (satu ulasan = satu kali submit).