My first time visit to Ijen. I can't believe that we've made it ! Perjalanan dimulai dari hotel pukul 11.00 malam di daerah Dadapan menuju ke Tamasari menuju arah naik ke Ijen. Menuju ke area perkemahan harus melewati hujan erek-erek kurang lebih 15 KM, dan kurang beruntungnya ujan pada malam itu, jalan yang menanjak dan berkelok-kelok mengurangi jarak pandang karena berembun dan semakin dekat semakin tercium bau belerang. Daerah hutan ini juga rawan longsor, disarankan menggunakan jas hujan dari mulai perjalanan karena hujan bisa turun kapan saja diperjalanan walaupun nanti di area perkemahan - track ijen nya tidak hujan. Sesampai di area perkemahan kita dapat membeli tiket di loket sebelah kiri sebelum jalur pendakian kawah Ijen, beruntungnya kita dibantu oleh pemilik warung diarea tsb saat sedang berteduh. Pemesanan dilakukan via online terlebih dahulu kemudian pembayaran dilakukan di loket. Di area ini menyewakan masker pelindung gas, trekking pole dan jas hujan, serta sarung tgn. Kira-kira pukul 01.00 kita tiba, namun karena pasca covid loket dibuka untuk naik pada pukul 02.00 yg mana kita harus menunggu selama 1 jam, rasanya pesimis untuk dpat melihat blue fire yg fenomenal itu. Setelah loket dibuka, kita pun diperbolehkan naik. Perjalanan dari area perkemahan menuju puncak memakan waktu /- 4 jam karena jalanan setengah masih dalam keadaan basah dan licin, ada 3 rest area untuk membeli minum ataupun duduk, dan toilet. Sesampainya dipuncak pukul 04.30, dan kamipun bergegas turun ke kawah ijen untuk melihat bluefire karena hari semakin terang, ketika turun jalanan curam dan harus ekstra hati², beri jalan kepada penambang saat mereka lewat karena beban pikulan dipundak mereka sangat berat. Berilah uang jika kalian mendokumentasikan mereka. Sesampai dibawah sekitar pukul 5 lewat, hanya sedikit bluefire yang dapat kami dokumentasikan dan ada sedikit kejadian yg kurang mengenakan... saya nyaris pingsan karena menghirup asap belerang yang berlebihan. Saat itu saya berfoto dipinggir kawah, saya dan seorang turis lainnya tidak menyadari saat penambang menyiramkan air kearah belerang agar mengeras untuk mereka angkut. Asap mengempul menutupi kami saat itu, panik, mata perih, dan sesak napas karena asap tersebut yang terhirup. Beruntung, saya sempat ditarik keluar dr kepulan asap tsb. Sedikit membuat trauma untuk kembali turun ke kawah, untuk next time mungkin saya tidak akan mendekati kepulan asap belerang tsb. Saatnya saya kembali menaiki lereng yg curam untuk kembali ke jalur turun pendakian. Saat mendaki turun tidak terasa melelahkan seperti saat mendaki naik. Para pengangkut pendaki menggunakan gerobak mulai menawarkan saat kami turun, tolaklah dengan sopan apabila tidak menggunakan jasanya. Kawah Ijen jadi salah satu daya tarik wisatawan, dan landmark kota tsb namun untuk kelayakan nya masih jauh dari layak 3/5. Rest area harus lebih baik lagi, dan safety pagar di area curam jarang ditemui, padahal banyak tanda bahaya longsor. Sangat menyedihkan memiliki landmark wisata yang Indah dan masuk dalam 1 dari 2 tempat yang memiliki bluefire. Budidayakan masyarakat lokal untuk memajukan wisata, dan tentu membantu mata pencaharian mereka dgn cara yg layak, bukan dgn cara yang ingin dibelaskasihani. It's sad to hear, once old miner said "you take picture, you give money", and i see the tourist just walked away after took the picture. Sadly It's not the right way for both of them. Anyway, perjalanan pulang dari Ijen melewati hutan erek-erek way more better than last night, isn't that creepy in the morning. I loved everything about the village and Ijen crater.
Kawah Ijen
Banyuwangi
TripAdvisor
31-10-2022