Perjalanan saya ke Gunung Ijen sangat menantang dan tak terlupakan. Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 23.30 dan hanya berhasil mendapatkan tempat parkir sekitar pukul 02.00 karena keramaian akhir pekan yang panjang. Saya diperkenalkan dengan pemandu lokal di pangkalan yang menemani saya sepanjang perjalanan. Pendakian ini memiliki tiga pit stop. Jalur pertama sepanjang 800 m relatif mulus, namun dua pit stop berikutnya masing-masing berjarak sekitar 1,2 km dengan jalur yang curam, sempit, dan berkelok-kelok. Sepanjang jalan gelap gulita, hanya lampu senter dan lampu depan yang menerangi jalan. Jalur ini penuh sesak dengan pejalan kaki dan taksi troli, yang harus selalu kami beri jalan, karena petugas mereka tidak bisa berhenti di lereng. Begitu sampai di puncak, saya tidak menuju ke puncak karena kabut tebal dan banyaknya orang. Meski begitu, saya tetap bisa menyaksikan api biru yang menakjubkan dan danau kawah yang indah. Saya juga bertemu dengan beberapa penambang belerang yang menjual patung buatan tangan. Sungguh membuka mata ketika mengetahui bahwa para penambang ini mendaki medan berbahaya setiap hari dan hanya menghasilkan sekitar 1.000 rupiah per kilogram belerang. Turunannya curam tetapi lebih mudah dinavigasi karena siang hari sekitar pukul 6 pagi. Menariknya, bau belerangnya tidak terlalu menyengat seperti yang saya perkirakan, justru asap rokok dari pendaki lain yang lebih menyengat. Pemandu lokal saya, meskipun terbatas dalam bahasa Inggris, sangat perhatian dan penuh perhatian. Dia menyediakan masker gas, memastikan keselamatan saya, dan bahkan mengambil foto dan video yang fantastis untuk saya. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah, apalagi dengan keramaian, namun ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya sarankan untuk mempersiapkan mental dan fisik, dan pergi pada hari kerja jika memungkinkan untuk menghindari keramaian.
Kawah Ijen
Banyuwangi
TripAdvisor
05-11-2025